Bagaimana hukumnya mempelajari filsafat

Tanya: Bagaimana hukumnya mempelajari filsafat, mantiq atau wacana (teori)
yang didalamnya berisi olok-olok terhadap ayat-ayat Allah, apakah boleh duduk
bersama mereka?

Jawab: Jika ia seorang yang berilmu, yakin terhadap diri sendiri dan tidak ada
kekhawatiran akan terkena fitnah dalam hal agamanya baik melalui bacaan atau
pun dialog dengan mereka, kemudian ia berniat untuk membantah atau meluruskan
yang batil, menegakkan yang hak, maka boleh untuk mempelajarinya. Namun jika
tidak demikian, maka tidak boleh mempelajarinya, tidak boleh bergaul bersama
mereka sebagai suatu bentuk sikap menjauhi kebatilan dan pelakunya serta
menjaga diri dari fitnah.

Tanya: Bolehkah menggunakan ayat-ayat al-Qur'an untuk membuat perumpamaan
sesuatu. Seperti mengumpamakan (rokok, red) dengan ayat, "yang tidak
mengemukakan dan tidak pula menghilangkan lapar.”(QS. 88:7) Atau berkata
(tentang tanah) dengan ayat," Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan
kepadanya, Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan
mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (QS. 20:55).

Jawab: Tidak apa-apa membuat perumpamaan dengan ayat al-Qur'an jika
penggunaan dan tujuannya adalah benar seperti contoh yang dikemukakan. Apabila
dengan ayat-ayat tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan orang tentang
bahaya rokok atau, bahwa manusia itu diciptakan dari tanah lalu akan kembali ke
tanah dan dibangkitkan dari perut bumi, maka permisal-an seperti ini dibolehkan
karena tidak adanya unsur berolok-olok dan menghina al-Qur'an.

Namun jika perumpamaan yang digunakan adalah untuk mengolok-olok dan menghina
al-Qur'an maka masuk dalam kategori murtad dari Islam, sebab telah menjadikan
peringatan Allah sebagai bahan per-olokan dan permainan, sebagaimana firman
Allah artinya, "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka
lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, "Sesungguhnya kami hanya bersenda
gurau dan bermain-main saja". Katakanlah, "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya
dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta maaf, karena
kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema'afkan segolongan dari kamu
(lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain)
disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. 9:65-66)
(Syaikh Shalih al-Fauzan)

Tanya: Bagaimana hukumnya orang yang memegang al-Qur'an lalu
merobek-robeknya padahal ia tahu bahwa itu adalah al-Qur'an dan juga telah ada
orang yang memperi-ngatkannya? Kemudian bagaimana pula dengan orang yang
dengan sengaja mematikan puntung rokok pada mushaf al-Qur'an?
Jawab: Kedua orang itu dihukumi kafir, karena telah memperolok-olok dan
menghina kitabullah, dan keduanya termasuk golongan mustahzi'in yang hukumnya
seperti difirmankan Allah (QS. 9:65-66).

(Fatawa fi Man Istahza’a Biddin wa Ahlihi, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah
wal Ifta, Dewan Tetap Arab saudi untuk riset-riset ilmiyah dan fatwa)

Sponsor link:


Share on Google Plus

About Berita Islam

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar