Tuntunan Ulama' Salaf dalam menyikapi hari raya non muslim

Bagian 4:

Kemudian Hari Raya (Ied) bisa menjadi nama untuk tempat perayaan, waktu
perayaan, atau pertemuan pada perayaan tersebut. Ketiganya memunculkan
beberapa bentuk bid'ah. Adapun yang berkaitan dengan waktu, ada tiga macam.
Terkadang di dalamnya juga tercakup sebagian bentuk tempat dan aktivitas
perayaan.

Pertama: Hari yang secara asal memang tidak dimuliakan oleh syariat, tidak pernah
pula disebut-sebut oleh para ulama As-Salaf. Tidak ada hal yang terjadi yang
menyebabkan hari itu dimuliakan.

Yang kedua: Hari di mana terjadi satu peristiwa sebagaimana terjadi pada hari yang
lain, tanpa ada konsekuensi menjadikannya sebagai musim tertentu, para ulama
As-Salaf juga tidak pernah memuliakan hari tersebut.

Maka orang yang memuliakan hari itu, telah menyerupai umat Nashrani yang
menjadikan hari-hari terjadinya beberapa peristiwa terhadap Nabi Isa sebagai Hari
Raya. Bisa juga mereka menyerupai orang-orang Yahudi. Sesungguhnya Hari Raya
itu adalah syariat yang ditetapkan oleh Allah untuk diikuti. Kalau tidak, maka akan
menjadi bid'ah yang diada-adakan dalam agama ini.

Demikian juga banyak bid'ah yang dilakukan masyarakat yang meniru-niru
perbuatan umat Nashrani terhadap hari kelahiran Nabi Isa -'Alaihissalam-- , bisa jadi
untuk menunjukkan kecintaan terhadap Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan
memuliakan beliau. Perbuatan semacam itu tidak pernah dilakukan oleh generasi
As-Salaf, meskipun yang mengharuskannya (bila memang boleh) sudah ada, dan
tidak ada hal yang menghalangi.

Yang ketiga: Hari-hari di mana dilaksanakan banyak syariat, seperti hari Asyura, hari
Arafah, dua Hari Raya dan lain-lain. Kemudian sebagian Ahli Bid'ah membuat-buat
ibadah pada hari itu dengan keyakinan bahwa itu merupakan keutamaan, padahal
itu perbuatan munkar yang dilarang. Seperti orang-orang Syi'ah Rafidhah yang
menghaus-hauskan diri dan bersedih-sedih pada hari Asyura' dan lain-lain. Semua
itu termasuk perbuatan bid'ah yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah Ta'ala dan
Rasul-Nya, tidak pula oleh para generasi As-Salaf atau Ahli Bait Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam. Adapun mengadakan pertemuan rutin yang berlangsung secara
terus menerus setiap minggu, setiap bulan atau setiap tahun selain
pertemuan-pertemuan yang disyariatkan, itu meniru pertemuan rutin dalam shalat
lima waktu, Jumat, Ied dan Haji. Yang demikian itu termasuk bid'ah yang
dibuat-buat.

Dasarnya adalah bahwa seluruh ibadah-ibadah yang disyariatkan untuk dilakukan
secara rutin sehingga menjadi sunnah tersendiri dan memiliki waktu pelaksanaan
tersendiri kesemuanya telah ditetapkan oleh Allah. Semua itu sudah cukup menjadi
syariat bagi hamba-hamba-Nya. Kalau ada semacam pertemuan yang dibuat-buat
sebagai tambahan dari pertemuan-pertemuan tersebut dan dijadikan sebagai
kebiasaan, berarti itu upaya menyaingi syariat dan ketetapan Allah. Perbuatan itu
mengandung kerusakan yang telah disinggung sebelumnya. Lain halnya dengan
bentuk bid'ah yang dilakukan seseorang sendirian, atau satu kelompok tertentu
sesekali saja."

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, seorang muslim tidak boleh berpartisipasi
pada hari-hari yang dirayakan setiap tahun secara rutin, karena itu menyaingi
Hari-hari Raya kaum muslimin sebagaimana telah kita jelaskan sebelumnya. Tetapi
kalau dilakukan sekali saja, dimisalkan seorang muslim hadir di hari itu untuk
memberikan penjelasan kepada kaum muslimin lainnya dan menyampaikan
kebenaran kepada mereka, maka tidak apa-apa, insya Allah. Wallahu A'lam.
(Masa-il wa Rasaa-il oleh Muhammad Al-Humud An-Najdi 31)

Sponsor link:


Share on Google Plus

About Berita Islam

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar