AKHLAQ DAN KEUTAMAAN

Para pembaca Al Qur'an bisa merujuk pada surat Al An'am sehingga bisa membaca sepuluh wasiat pada ayat-ayat yang akhir sebagai berikut:
"Katakanlah, "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar." Demikian itu yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yaatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kau mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa." (Al An'am: 151-153)
Atau merujuk pada surat Luqman dan membaca tentang wasiat Luqman kepada anaknya, atau merujuk pada surat "Ad Dahr" dan membaca sifat-sifat orang-orang baik:
"Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang yang ditawan." (Al Insan (Ad-Dahr): 7-8)
Atau kembali pada surat Al Baqarah dan membaca pada bagian akhir dari surat ini ayat-ayat Allah mengenai diharamkannya riba dan nadzar seseorang untuk makan riba dan bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi mereka jika mereka tidak mau bertaubat dan berhenti untuk cukup dengan modal harta mereka.
Atau kembali pada surat An-Nisa' tentang bagaimana memberi wasiatwasiat yang baik kepada kaum wanita:
"Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka." (An-Nisa': l9)
Atau membaca surat yang sama yaitu tentang hak-hak kerabat keluarga:
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya." (An-Nisa': 36)
Atau membaca surat Al Maidah:
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (Al Maidah: 90)
Kata "Ijtinaab" sebagaimana terdapat pada ayat tersebut tidak dipergunakan oleh Al Qur'an kecuali bersamanya kesyirikan dan dosa-dosa besar.
Sehingga pembicaraan akan panjang jika kita teliti pembahasan masalah akhlaq dalam ayat-ayat Al Qur'an yang mulia, karena sebagian besar perintah-perintah Al Qur'an dan larangan-larangannya berkaitan erat dengan sisi terpenting dari kehidupan manusia, itulah sisi moral.
Barangkali ada sebagian manusia yang berbeda dengan kita dalam hal memberi nama masalah tersebut dengan "Akhlaq," tetapi ia memberi nama dengan istilah "Awaamirdan Nawaahi." Ini hanya perbedaan dalam istilah saja, yaitu dalam penamaan, bukan dalam esensinya, baik secara penetapan atau pengingkaran. Para ulama salaf mengatakan:
"Tidak ada masalah dalam istilah, dan tidak berbahaya perselisihan nama selama yang diberi nama itu telah jelas."

Kita memilih pemberian nama masalah-masalah yang dibawa oleh Al Qur'an dan As-Sunnah tersebut dengan "Akhlaq" karena ta'rif (definisi) akhlaq itu sangat sesuai dengannya.

 Sistem Masyarakat Islam
dalam Al Qur'an & Sunnah
Oleh:  DR. Yusuf Al-Qardhawi

Kunjungi juga:
·         http://jaketbaseball.org/
·         http://tokoseragamonline.com/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dalil-dalil dan hukum mencukur jenggot/lihyah bagi laki-laki

Hadits ke-68 Dari Kitab Shahih al-Bukhari

MEMPERSEMPIT PERBEDAAN ANTAR GOLONGAN